Buat siswa dan siswi Mts Ma'arif Kandanghaur...yang cantik dan ganteng..yang pinter dan cerdas...sering seringlah melatih otak kalian dengan sering mengunjungi situs blog saya ini...mudah - mudahan banyak barokahnya dan semoga impian dari cita - cita kalian lebih mudah terlaksana dan tergapai dengan SUKSES...!
Kamis, 20 Februari 2014
10 WASIAT IMAM SYAFI'I SEBELUM WAFAT
Sebelum Imam Syafi'i pulang ke rahmatullah, beliau sempat berwasiat kepada para muridnya dan ummat Islam seluruhnya. Berikut ialah kandungan wasiat tersebut:
"Barangsiapa yang ingin meninggalkan dunia dalam keadaan selamat maka hendaklah ia mengamalkan sepuluh perkara."
1. HAK KEPADA DIRI
Mengurangi tidur, mengurangi makan, mengurangi percakapan (yang tidak bermanfaa) dan menerima dengan ikhlas dengan rezeki yang ada.
2. HAK KEPADA MALAIKAT MAUT
Mengqadhakan kewajiban-kewajiban yang tertinggal, mendapatkan kemaafan dari orang yang kita zalimi, membuat persediaan untuk mati dan merasa cinta kepada Allah.
3. HAK KEPADA KUBUR
Membuang tabiat suka menabur fitnah, membuang tabiat kencing merata-rata, memperbanyakkan shalat Tahajjud dan membantu orang yang dizalimi.
4. HAK KEPADA MUNKAR DAN NAKIR
Tidak berdusta, berkata benar, meninggalkan maksiat dan nasihat menasihati.
5. HAK KEPADA MIZAN (NERACA TIMBANGAN AMAL PADA HARI KIAMAT)
Menahan kemarahan, banyak berzikir, mengikhlaskan amalan dan sanggup menanggung kesusahan.
6. HAK KEPADA SIRATH (TITIAN YANG MERENTANGI NERAKA PADA HARI AKHIRAT)
Membuang tabiat suka mengumpat, bersikap warak, suka membantu orang beriman dan suka berjemaah.
7. HAK KEPADA MALAIKAT MALIK (PENJAGA NERAKA)
Menangis lantaran takut kepada Allah SWT, berbuat baik kepada ibu bapa bersedekah secara terang-terangan serta sembunyi dan memperelok akhlak.
8. HAK KEPADA MALAIKAT RIDHWAN (PENJAGA SYURGA)
Berasa ridha dengan Qadha' Allah, bersabar menerima bala, bersyukur atas nikmat Allah dan bertaubat dari melakukan maksiat.
9. HAK KEPADA NABI MUHAMMAD SAW
Bershalawat atas baginda, berpegang dengan syariat bergantung kepada As-Sunnah (Hadits), menyayangi para sahabat dan berlomba-lomba dalam mencari keridhaan Allah.
10. HAK KEPADA ALLAH SWT
Mengajak manusia ke arah kebaikan, mencegah manusia dari kemungkaran, menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan.
Adab Berkunjung dan meminta Ijin
1. Allah berfirman :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ
حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ
لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَإِن
لَّمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ
لَكُمْ ۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ
ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
لَّيْسَ
عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا
مَتَاعٌ لَّكُمْ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ
“ Hai orang – orang yang beriman ,
janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izi dan
memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu,
agar kamu ( selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun
didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin. Dan
jika dikatakan kepadamu : “ kembali ( saja)lah maka hendaklah kamu
kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan
untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui
apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (An Nuur : 27-29)
2. ini
adalah adab-adab syar’i yang Allah telah mengajarkan hamba-Nya dengan
adab tersebut, yaitu meminta izin. Allah memerintahkan mereka untuk
tidak masuk rumah selain rumah mereka sampai mereka dipersilahkan yaitu
meminta izin sebelum masuk dan mengucapkan salam setelahnya. Dan
hendaknya meminta izin sebanyak tiga kali, apabila diizinkan. Kalau
tidak maka harus kembali.
Sebagaimana hadist dalam kitab Shahih, bahwasannya Abu Musa ketika izin kepada Umar tiga kali, tetapi belum di izinkan untuknya dia pulang. Kemudian Umar berkata :” Apakah kalian tidak mendengar suara Abdullah bin
Qais meminta izin? Izinkanlah ia : “ maka mereka mencari Abu Musa
tetapi Abu Musa telah pergi. Ketika dia datang setelah itu, Umar
bertanya : “ Apa yang menyebabkanmu kembali? Dia menjawab : “saya telah
meminta izin tiga kali dan belum diizinkan untukku. Sesungguhnya aku
mendengar Rasulullah bersabda :
“ Apabila kalian telah meminta izin tiga kali dan belum diizinkan maka kembalilah.” [ Muttafaqun’alaih].
Maka Umar berkata “ kamu harus mendatangkan saksi kepadaku ( tentang hadist tersebut-pent). Kalau tidak aku akan memukulmu.
Maka Abu Musa pergi kepada sekelompok orang Anshor dan dia
menyebutkan kepada mereka perkataan Umar. Maka mereka menyatakan :”
tidak perlu menjadi saksi bagimu,kecuali orang yang paling kecil
diantara kami ( maksudnya perkara ini telah di ketahui sampai anak –
anak, pent). Maka Abu Sa’id memberikan hadist kepada Umar dengan yang
seperti itu. Maka Umar berkata : “ telah melalaikanku jual beli di
pasar-pasar daripada hadist ini “ [ Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/278]
Faedah dari ayat dan hadist tersebut :
1. orang yang mengunjungi tidak boleh
masuk rumah sebelum meminta izin dari pemilik rumah dan sebelum mendapat
sambutan dan dipersilahkan untuk masuk.
2. orang yang mengunjungi harus mulai
mengucapkan salam dari yang dikunjungi dengan mengatakan
Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Firman Allah Ta’ala :
فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ
“ Maka apabila kamu memasuki ( suatu
rumah dari ) rumah – rumah ( ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (
penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri. Salam
kepada mereka, salam yang di tetapkan dari sisi Allah, yang di beri
berkat lagi baik.” [ An Nuur : 61]
3. Mujahid berkata : apabila kamu masuk
masjid maka katakanlah : “ Semoga keselamatan atas Rasulullah” , dan
apabila kamu masuk kepada keluarga maka ucapkan salam kepada mereka,
apabila masuk ke rumah yang tidak ada orangnya maka katanlah :
Assalamu’alainaa wa’ala ‘ibaadillahish sholikhin
“ semoga keselamatan atas kami dan atas hamba-hama Allah yang shalih”
Qatadah menambahkan : sesungguhnya para malaikat menjawab salam tersebut. [lihat Tafsir Ibnu Katsir : 3/05]
Tidak ada perbedaan lafazh untuk laki-laki dan perempuan.
4. Tidak boleh bagi wanita untuk masuk
ke rumah seorang tanpa izin sebagaimana kebiasaan sebagain mereka.
Karena bisa jadi ada laki-laki sendirian di dalam rumah atau ada
laki-laki yang sedang tidur.
5. Jauhilah untuk membiasakan istri dan
anak-anakmu berdusta. Misalkan kamu nasehati mereka agar ketika pintu
diketuk mereka mengatakan : “ tidak ada “ padahal kamu berada di rumah,
apabila karena sibuk dan tidak bisa menemui atau keluar sepantasnya
meminta maaf. Yang seperti itu lebih baik di dunia dan akherat. Firman
Allah Subhanahuwata’la :
وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“ dan jika dikatakan kepadamu : “
kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih baik bersih
bagimu. “ [ An Nuur : 28]
6. tidak boleh bagi orang yang
mengunjungi untuk memandang ke dalam rumah ketika meminta izin, karena
izin itu diisyaratkan karena sebab pandangan. Rasulullah bersabda :
“ siapa yang memandang ke dalam
rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka telah halal bagimu tersebut
untuk mecongkel matanya” [HR. Muslim]
Dan dahulu, apabila Nabi mendatangi
pintu suatu kaum beliau tidak mengadap ke pintu persis depannya, namun
ke pojok kanan atau kiri dan mengatakan “Assalammu’alaikum,
assalammu’alaikum [ Hadist shahih riwayat Ahmad]
7. jangan kamu masuk ke rumah yang
pemiliknya tidak ada di dalam rumah atau salah satu anak yang laki-laki
yang dewasa, berdasarkan firman Allah Ta’ala :
فَإِن لَّمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ
“ jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin.” [An Nuur : 28]
Dan tidak dianggap izinnya dari perempuan yang bukan mahramnya seperti istrinya, anak perempuan paman ataupun istri suadaranya.
8. Wajib meminta izin masuk ketika
mengunjungi kerabat seperti rumah pamanmu, saudaramu, bahkan termasuk
sunnah adalah kamu meminta izin kepada sudara-saudara perempuanmu. Ibny
Juraij berkata : “ saya mendengar ‘Atha bin Abi Rabbah di beri kabar
dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata tiga ayat yang manusia menolaknya
adalah firmannya :
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“ Hai manusia sesungguhnya kam
menciptakan kamu dan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenall [Al Hujurat : 13]
Atha’ berkata : saya katakan : apakah
saya meminta izin kepada saudara-saudara perempuanku agar anak-anak
yatim dalam asuhanku bersama saya dalam satu rumah? Ibnu Abbas menjawab :
ya kemudian pertanyaan itu saya ulang agar dia memberikan rukhshoh (
keringanan ) kepada saya tetapi dia enggan dan berkata : apakah kamu
ingin melihatnya dalam keadaan tidak memakai baju? Saya menjawab :
tidak, dia berkata : mintalah izin .
Adapun istri saudara, paman dari pihak
bapak atau ibu, dan saudari istri, maka tidak boleh berkhalwat ( berduan
) dengan salah seorang dari mereka dalam satu rumah, tidak boleh pula
melihat mereka dalam kedaan terbuka atau berhias. Rasulullah bersabda :
“ hati – hatilah kalian untuk masuk kepada wanita”
Maka seorang laki – laki anshor berkata:
“ wahai Rasulullah, bagiamana pedapat engku tentang ipar?Rasul menjawab
: “ Ipar adalah maut “
9. Apabila kamu masuk kerumah maka
ucapkanlah salam kepada keluargamu, dan ajarilah mereka dengan suaraamu
sebelum kamu masuk berdasarkan perkataan Jabir bin Abdullah :
“ apabila kamu masuk kepada keluargamu
maka ucapkanlah salam kepada mereka, salam yang di tetapkan dari sisi
Allah, yang di berkahi lagi baik.
10. biasakanlah anak-anakmu semenjak
kecil meminta izin ketika mereka masuk ke rumah-rumah selain mereka
masuk ke rumah-rumah selain mereka walaupun termasuk kerabat.
11. sangat baik apabila kunjunganmu
sebentar saja, karena bisa jadi pemilik rumah sedang mempunyai janji
atau sedang sibuk. Allah berfirman kepada kaum mukminin.
فَإِذَا
طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ
ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا
يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ
“ dan bila kamu selesai makan,
keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang
demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu ( untuk
menyuruh kamu keluar) dan Allah tidak malu ( menerangkan yang) yang
benar. “ ( Al Ahzab : 53)
12. orang yang mengunjungi walaupun buta
harus tetap meminta izin sebagaimana yang lain agar para wanita
berhijab darinya dan berkhalwat dengannya tetap haram. Dari Ummu
Salamah, dia berkata : saya pernah berada di sisi Nabi dan juga
Maimunah. Maka datanglah Ibnu Ummi Maktum sampai masuk menemui beliau,
dan ketika itu setelah kita diperintahkan untuk berhijab. Maka
Rasulullah bersabda :
“ berhijablah kalain berdua darinya”.
Maka kami katakan : wahai Rasulullah bukankah dia buta, tidak melihat
kami dan kami tidak akan melihat? Beliau menjawab : apakah kalian berdua
buta? Bukankah kalian melihatnya? [HR At Tirmidzi, dan Ibnu Hajar
berkata : Isnadnya kuat]
13. tidak boleh melihat hijab atau surat saudaranya tanpa izin, karena bisa jadi ada didalamnya yang bersifat rahasia
( diambil dari buku , Kiat Sukses Mendidik Anak, Pustaka Al Haura’)
Ikhlas dan Menghadirkan Niat dalam semua Hal
Allah berfirman:
وَمَا
أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ
الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama
yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Allah berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu
sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaan
dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Allah berfirman:
قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ
“Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan
apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah
mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 29)
وعن
أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن قرط
بن رزاح بن عدى بن لؤى ابن غالب القرشى العدوى. رضي الله عنه، قال:
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ” إنما الأعمال بالنيات،
وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله
ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر
إليه” ((متفق على صحته. رواه إماما المحدثين: أبو الحسين مسلم بن
الحجاج بن مسلم القشيرى النيسابورى رضي الله عنهما في صحيحهما اللذين هما
أصح الكتب المصنفة))
[1] Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin
Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth
bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Qurasyiy
Al-‘Adawiy ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya setiap amalan disertai
dengan niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia
niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya,
maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang berhijrah
karena dunia atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya
sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuannya.” (Hadits disepakati
sahnya oleh dua imam para ahli hadits: Abu ‘Abdullah Muhammad bin
Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari
dan Abul Husein Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi
dalam kitab keduanya yang merupakan kitab paling shahih (setelah
Al-Qur’an- pen)
وعن
أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن قرط
بن رزاح بن عدى بن لؤى ابن غالب القرشى العدوى. رضي الله عنه، قال:
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ” إنما الأعمال بالنيات،
وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله
ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر
إليه” ((متفق على صحته. رواه إماما المحدثين: أبو الحسين مسلم بن
الحجاج بن مسلم القشيرى النيسابورى رضي الله عنهما في صحيحهما اللذين هما
أصح الكتب المصنفة))
[2] Dari Ummul Mukminin Ummu ‘Abdullah ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah bersabda:
“Ada sekelompok pasukan yang akan
menyerang Ka’bah, namun ketika mereka sampai di tanah lapang yang
gersang mereka ditenggelamkan dari yang paling depan sampai yang paling
belakang”. ‘Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka
ditenggelamkan dari yang paling depan sampai yang paling belakang,
padahal di antara mereka ada orang awwam dan ada pula orang yang bukan
dari golongan mereka?” Beliau menjawab: “Mereka akan ditenggelamkan dari
yang paling depan sampai yang paling belakang, kemudian mereka akan
dibangkitkan sesuai niatnya masing-masing.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim. Ini lafazh al-Bukhari)
{}-
وعن عائشة رضي الله عنها قالت قال النبي صلى الله عليه وسلم: ” لا
هجرة بعد الفتح، ولكن جهاد ونية، وإذا استفرتم فانفروا” ((متفق
عليه)). ومعناه: لا هجرة من مكه لأنها صارت دار إسلام
[3] Dari ‘Aisyah, ia berkata: Nabi bersabda:
“Tidak ada hijrah lagi setelah ditaklukkannya kota Makkah,
tetapi yang ada adalah jihad dan niat. Dan jika kalian dipanggil untuk
berjihad, maka berangkatlah!.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maknanya: Tidak ada lagi hijrah dari Makkah, sebab ia sudah menjadi Darul Islam.
{}-
وعن أبي عبد الله جابر بن عبد الله الأنصارى رضي الله عنهما قال: كنا مع
النبي صلى الله عليه وسلم في غزاةٍ فقال: ”إن بالمدينة لرجالاً ماسرتم
مسيراً، ولا قطعتم وادياً إلا كانوا معكم حبسهم المرض” وفى رواية:
”إلا شاركوكم في الأجر” ((رواه مسلم)).
[4] Dari Abu ‘Abdullah Jabir bin
‘Abdullah Al-Anshariy, ia berkata: Kami bersama Nabi dalam salah satu
peperangan, kemudian beliau bersabda:
“Sesungguhnya di Madinah
ada orang-orang yang tidaklah kalian menempuh perjalanan atau melintasi
lembah melainkan mereka senantiasa bersama kalian, hanya saja mereka
terhalangi oleh sakit.”
Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, Rasulullah bersabda:
“Melainkan mereka selalu ikut serta bersama kalian dalam (mendapatkan) pahala.” (HR. Muslim)
((ورواه
البخاري)) عن أنس رضي الله عنه قال: رجعنا من غزوة تبوك مع النبي
صلى الله عليه وسلم فقال: ” إن أقواماً خلفنا بالمدينة ما سلكنا شعباً
ولا وادياً إلا وهم معنا، حبسهم العذر”.
[5] Dari Anas ia berkata: Kami bersama Nabi kembali dari perang Tabuk, kemudian beliau bersabda:
“Sesungguhnya ada orang-orang yang
kalian tinggalkan di Madinah, tidaklah kalian menempuh celah bukit atau
lembah melainkan mereka senantiasa menyertai kalian, mereka ditahan oleh
uzur.” (HR. Al-Bukhari)
{}-
وعن أبي يزيد معن بن يزيد بن الأخنس رضي الله عنهم، وهو وأبوه وجده
صحابيون، قال: كان أبي يزيد أخرج دنانير يتصدق بها فوضعها عند رجل في
المسجد فجئت فأخذتها فأتيته بها، فقال: والله ما إياك أردت، فخاصمته إلى
رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ” لك ما نويت يا يزيد، ولك ما أخذت
يامعن” ((رواه البخاري)).
[6] Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas ia, ayah, dan kakeknya semua termasuk sahabat, ia berkata:
“Ayahku Yazid pernah mengeluarkan
beberapa dinar untuk disedekahkan, lalu beliau meletakkannya di sisi
seseorang di masjid. Kemudian aku datang (ke masjid), aku mengambilnya
lalu aku tunjukkan kepada ayahku, ayahku berkata: “Demi
Allah,bukan…engkau yang saya maksudkan.” Lalu aku mengadukan peristiwa
itu kepada Rasulullah, maka beliau bersabda:
“Bagimu apa yang kamu niatkan wahai Yazid, dan bagimu apa yang kamu ambil wahai Ma’an.” (HR. Al-Bukhari)
( Diambil dari Terjemahan Riyadush Shalihin, Hikmah Ahlus Sunnah)
Ciri Wanita Ahli Syurga
Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan
abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana
dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata,
dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh
mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.
Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)
“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)
Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :
“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)
“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)
“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :
“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)
Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga
Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?
Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.
Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :
1. Bertakwa.
2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.
7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.
12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
14. Berbakti kepada kedua orang tua.
15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.
Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).
Wallahu A’lam Bis Shawab.
(Dikutip dari tulisan al ustadz Azhari Asri, judul asli Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya. MUSLIMAH XVII/1418/1997/Kajian Kali Ini)
Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)
“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)
Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :
“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)
“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)
“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :
“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)
Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga
Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?
Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.
Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :
1. Bertakwa.
2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.
7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.
12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
14. Berbakti kepada kedua orang tua.
15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.
Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).
Wallahu A’lam Bis Shawab.
(Dikutip dari tulisan al ustadz Azhari Asri, judul asli Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya. MUSLIMAH XVII/1418/1997/Kajian Kali Ini)
Ciri Orang Ahli Syurga
Tentunya setiap manusia ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya manusia ahli Surga adalah manusia yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Di antara ciri-ciri manusia ahli Surga adalah :
1. Bertakwa.
2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.
7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.
12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
14. Berbakti kepada kedua orang tua.
15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.
Langganan:
Komentar (Atom)



